Senin, 01 September 2014

Geografi Perjalanan Sufi " Abu Yaziz Al-Busthami

ABU YAZID AL-BUSTHAMI 



Abu Yazid Thaifur bin ’Isa bin Surusyan aI-Busthami Iahir di Bustham yang
terletak di bagian Timur Laut Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster. Di Bustham ini pula Abu Yazid meninggal dunia tahun 261 H/874 M atau 264 H/877 M, sedang makamnya masih ada hingga saat ini. Di samping keharuman namanya sebagai pendiri perguruan sufisme, beliau dikenal karena
keberaniannya menyatakan peleburan yang sempurna seorang mistikus ke dalam tuhan.

Secara khusus penjelasan-penjelasannya mengenai perjalanannya ke surga (yang mirip dengan Mi”raj Nabi Muhammad), sangat sering dipelajari oleh para penulis dan sangat mempengaruhi imajinasi manusia-manusia sesudahnya.
ABU YAZID AL-BUSTHAMI: LAHIR DAN MASA REMAJANYA
Kakek Abu Yazid al-Busthami adalah seorang penganut agama Zoroaster. Ayahnya adalah salah seorang di antara orang-orang terkemuka Bustham. Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa bermula sejak ia berada di dalam kandungan ibunya.

“Setiap kali aku menyuap makanan yang kuragukan kehalalannya”, ibunya sering berkata kepada Abu Yazid, “Engkau yang masih berada di dalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu kumuntahkan kembali”.
Pernyataan si ibu dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.
Kepada Abu Yazid pernah ditanyakan, “Apakah yang terbaik bagi seorang manusia di atas jalan ini”.
“Kebahagiaan yang merupakan bakat sejak lahir”, jawab Abu Yazid.
”Jika kebahagiaan seperti itu tidak ada?”
“Sebuah tubuh yang sehat dan kuat”.
“Jika tidak memilki tubuh yang sehat dan kuat?”
“Pendengaran yang tajam”.
“Jika tidak memiliki pendengaran yang tajam?”
“Hati yang mcngetahui”.
“Jika tidak memiliki hati yang mengetahui?”
“Mata yang melihat”.
“Jika tidak memiliki mata yang melihat?”
“Kematian yang segera”. ‘
Setelah sampai waktunya, si ibu mengirimkan Abu Yazid ke sekolah. Abu Yazid mempelajari al-Qur’an. Pada suatu hari gurunya menerangkan arti satu ayat dari surah Lukman yang berbunyi: “Berterimakasihlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu”. Ayat ini sangat menggentarkan hati Abu Yazid. Abu Yazid meletakkan batu-tulisnya dan berkata kepada gurunya: “IzinkanIah aku pulang, ada sesuatu yang hendak kukatakan kepada ibuku”.
Si guru memberi izin, Abu Yazid lalu pulang ke rumahnya. Ibunya menyambutnya dengan kata-kata:
”Thaifur, mengapa engkau sudah pulang? Apakah engkau mendapat hadiah atau adakah suatu kejadian yang istimewa?”
“Tidak”, jawab Abu Yazid. “Pelajaranku sampai pada ayat di mana Allah memerintahkan agar aku berbakti kepada-Nya dan kepada ibu. Tetapi aku tak dapat mengurus dua buah rumah dalam waktu yang bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Mintalah diriku ini kepada Allah sehingga aku menjadi milikmu seorang atau serahkanlah aku kepada Allah semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata-mata”.

”Anakku”, jawab ibunya. ”Aku serahkan engkau kepada Allah dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu terhadapku. Pergilah engkau dan jadilah seorang hamba Allah”.
Di kemudian hari Abu Yazid berkata, “Kewajiban yang semula kukira sebagai kewajiban yang paling sepele di antara yang lain-lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama. Yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku itulah kuperoleh segala sesuatu yang kucari, yakni segala sesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Allah. Kejadiannya adalah sebagai berikut:
Pada suatu malam, ibu meminta air kepadaku. Maka aku pun pergi mengambilnya, ternyata di dalam tempayan kami tak ada air. Kulihat dalam kendi, tetapi kendi itu pun kosong. Oleh karena itu pergilah aku ke sungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, ternyata ibuku sudah tertidur‘”.
“Malam itu udara terasa dingin. Kendi itu tetap dalam rangkulanku. Ketika ibu terjaga, ia meminum air yang kubawa itu kemudian
memberkati diriku. Kemudian terlihatlah olehku betapa kendi itu telah membuat tanganku kaku.
“Mengapa engkau tetap memegang kendi itu?’, ibu bertanya.
’Aku takut ibu terjaga sedang aku sendiri terlena’, jawabku.
Kemudian ibu berkata kepadaku: ’Biarkan saja pintu itu setengah terbuka’ “.
“Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan perintah ibuku. Hingga akhirnya fajar terlihat lewat pintu, begitulah yang sering kulakukan berkali-kali”.
Setelah sang ibu memasrahkan anaknya kepada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bustham, merantau dari satu negeri ke negeri lain selama tiga puluh tahun, dan melakukan disiplin diri dengan terus-menerus berpuasa di siang hari dan bertirakat sepanjang malam. Ia belajar di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual dan telah memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan.
Di antara guru-gurunya itu ada seorang yang bernama Shadiq ra.. Ketika Abu Yazid sedang duduk di hadapannya, tiba-tiba Shadiq berkata
kepadanya,

“Abu Yazid, ambilkan buku yang dijendela itu”.
“Jendela? Jendela mana?”, tanya Abu Yazid.
“Telah sekian lama engkau belajar di sini dan tidak pernah melihat jendela itu?”
“Tidak”, jawab Abu Yazid, “Apakah perduliku dengan jendela.
Ketika menghadapmu, mataku tertutup terhadap hal-hal lain. Aku tidak datang ke sini untuk melihat segala sesuatu yang ada di sini”.
“Jika demikian”, kata si guru, “Kembalilah ke Bustham. Pelajaranmu telah selesai”.
Raden Haji Suryakencana putra Pangeran Aria Wiratanudatar


Raden Haji Suryakencana ra. yang nama lengkap beliau Raden Suryakencana Winata Mangkubumi merupakan seorang putra Pangeran Aria Wiratanudatar (pendiri kota Cianjur) yang beristrikan seorang putri jin.
Menurut babad Cianjur, Pangeran Surya Kencana dinikahkan oleh ayahnya dengan salah satu putri dari bangsa jin dan hingga kini bersemayam di Gunung Gede. Hal yang sama terjadi pula pada putri Jayasasana lainnya , Ny. R. Endang Sukaesih yang bersemayam di Gunung Ceremai dan R. Andika Wirusajagad yang menguasai Gunung Karawang.
Konon kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Sejarah dan legendanya merupakan kepercayaan masyarakat di sekitar, yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi di Gunung Gede.
Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa sebuah batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun. Beliau bersama rakyat jin menjadikan alun-alun sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe, Salawe Jajar, dan kebun kelapa salawe tangkal, salawe manggar.
Kawasan yang dipercaya oleh kalangan praktisi supranatural sebagai wilayah kekuasaan Eyang Surya Kecana dan karuhun Sunda lainnya adalah:

1. Kawasan Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Beliau bersama rakyat jin menjadikan alun2 sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe, Salawe Jajar, dan kebun kelapa salawe tangkal, salawe manggar. Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa sebuah batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun, dan disebut Batu Dongdang yang dijaga oleh Embah Layang Gading. Sumber air yang berada ditengah alun-alun, dahulu merupakan jamban untuk keperluan minum dan mandi.

2. Kawah Gunung Gede yang terdiri dari, Kawah Ratu, Kawah Lanang, dan Kawah Wadon, dijaga oleh Embah Kalijaga.

3. Embah Serah adalah penjaga Lawang Seketeng (pintu jaga) yang terdiri atas dua buah batu besar. Pintu jaga tersebut berada di Batu Kukus, sebelum lokasi air terjun panas yang menuju kearah puncak.

4. Eyang Jayakusumah adalah penjaga Gunung Sela yang berada disebelah utara puncak Gunung Gede.

5. Sedangkan Eyang Jayarahmatan dan Embah Kadok menjaga dua buah batu dihalaman parkir kendaraan wisatawan kawasan cibodas. Batu tersebut pernah dihancurkan, namun bor mesin tidak mampu menghancurkannya. Dalam kawasan Kebun Raya Cibodas, terdapat petilasan/ makam Eyang Haji Mintarasa.

6. Konon, Eyang Suryakencana menyimpan hartanya dalam sebuah gua lawa/walet yang berada di sekitar air terjun Cibeureum. Gua tersebut dijaga oleh Embah Dalem Cikundul. Tepat berada di tengah-tengah air terjun Cibeureum ini terdapat sebuah batu besar yang konon adalah perwujudan seorang pertapa sakti yang karena bertapa sangat lama dan tekun sehingga berubah menjadi batu. Pada hari kiamat nanti barulah ia akan kembali berubah menjadi manusia.

Riwayat RD. Aria Wiratanu 1 Raden Djayasasana Bin Aria Wangsa Goparan

MANUSIA LANGIT MANUSIA BUMI

Eyang Dalem Cikundul Sang Wali Hawariyyun



RD. Aria Wiratanu 1 Raden Djayasasana Bin Aria Wangsa Goparana lahir di Sagalaherang Subang Jawa Barat pada hari ahad  tanggal 10 Robi`ul Akhir 1025 H / bertepatan dengan 8 Mei 1616 M dan meninggal pada hari jum`at 13 Robi`ul Awwal 1118 H / 25 juni 1706 M.

Silsilah Leluhur-Nya :
1.   NABI ADAM AS.                                      
2.   NABI SYIS AS.
3.   ANWAR ( NUR CAHYA )
4.   SANGYANG NURASA
5.   SANGYANG WENANG
6.   SANGYANG TUNGGAL
7.   SANGYANG MANIK MAYA
8.   BRAHMA
9.   BRAMASADA
10. BRAMASATAPA
11. PARIKENAN
12. MANUMAYASA
13. SEKUTREM
14. SAKRI
15. PALASARA
16. ABIYASA
17. PANDU DEWANATA
18. ARJUNA
19. ABIMANYU
20. PARIKESIT
21. YUDAYANA
22. YUDAYAKA
23. JAYA AMIJAYA
24. KENDRAYANA
25. SUMAWICITRA
26. CITRASOMA
27. PANCADRIYA
28. PRABU SUWELA
29. SRI MAHAPUNGGUNG
30. RESI KANDIHAWAN
31. RESI GENTAYU
32. LEMBU AMILUHUR
33. PANJI ASMARABANGUN
34. RAWISRENGGA
35. PRABU LELEA ( MAHA RAJA ADI MULYA )
36. PRABU CIUNG WANARA ( SANG MANARAH RAJA GALUH 739 - 783 M )
37. SRI RATU DEWI PURBASARI ( SANG MANISTRI RAJA GALUH 783 - 799 M )
38. PRABU LINGGA HIANG ( RAJA SUNDA - GALUH 799 - 1333 M )
39. PRABU LINGGA WESI ( RAJA SUNDA - GALUH 1333 -1340 M )
40. PRABU SUSUK TUNGGAL
41. PRABU BANYAK LARANG
42. PRABU BANYAK WANGI
43. PRABU MUNDING KAWATI / PRABU LINGGA BUANA ( SANG MOKTENG ING BUBAT 1350 - 1357 M )
44. PRABU SILIH WANGI 1 ( PRABU WASTU KENCANA ) RAJA SUNDA - GALUH 1371 - 1475 M )
45. PRABU ANGGALARANG ( PRABU DEWA NISKALA RAJA GALUH / KAWALI 1475-1482 M )
46. PRABU SILIH WANGI 2 RAJA PAKUAN PAJAJARAN 1482 - 1521 M )
       ( RD.PAMANAH RASA ) Nikah ka Nyimas Padmawati :
47. PRABU MUNDING SURYA AGEUNG / PRABU MUNDING WANGI /
       MUNDING LAYA DIKUSUMAH / MUNDING SARI AGEUNG / MUNDING SARI 2
48. PRABU MUNDING SURYA LEUTIK /  MUNDING SARI LEUTIK / MUNDING SARI 3

49. PRABU PUCUK UMUM / RADEN RANGGA MANTRI
( RAJA MAJA PLUS RAJA TALAGA TERAKHIR ) nikah ka
  RATU DEWI SUNYALARANG ( RATU PARUNG taun 1500 M ) / RATU WULANSARI putri
SUNAN PARUNG / SUNAN CORENDRA / Raja Talaga Prabu Sakawayana  1450 M
Rd. Ranggamantri di islamkeun ku Raden Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati Cirebon
dina taun 1529 M , prabu pucuk umum apuputra :
50. SUNAN PARUNGGANGSA
51. SUNAN WANAPERIH / SUNAN CIBINONG / RADEN ARIA KIKIS
52. SUNAN CIBURANG / RADEN ARIA SARINGSINGAN
Kampung Ciburang Desa Maniis Kec.Cingambul Kab.Majalengka
53. SUNAN SAGALAHERANG / RADEN ARIA WANGSA GOPARANA
54. PANGERAN NGABEHI JAYA SASANA / JAYA LALANA /
       RAJA GAGANG / WIRATANU I EYANG DALEM CIKUNDUL

Riwayat Hidup

Rd.Aria Wiratanudatar waktu kecil bernama Pangeran Jayalalana atau R. Ngabehi Jayasasana. Ayahnya, Raden Aria Wangsagoparana yang juga masih keturunan raja Talaga, waktu berusia 8 tahun R. Aria Wiratanudatar mesantren di Cirebon mendalami ilmu agama Islam. Ia adalah seorang santri yang paling menonjol dalam bidang keagamaan, kemasyarakatan dan ilmu pemerintahan, sehingga oleh kesultanan Cirebon diberi gelar Aria sebagai tanda anggota kerabat keraton. Setelah dewasa ia diminta oleh gurunya mendirikan Kadipaten di Cinengah, gunanya untuk  menyebarkan agama Islam. Menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat kita yang waktu itu beragama Hindu dan Budha bukal hal yang gampang. Tantangan dan hambatan datang dari berbagai sudut,  Tapi berkat kepiawaiannya sedikit demi sedikit beliau bisa juga merangkul masyarakat sekitanyar untuk memeluk agama Islam.
Bahkan sejarah Cianjur mencatat sebagai salah seorang dari sekian ulama yang berhasil menyebarkan Islam di wilayah itu. Satu hal menarik mengenai pribadi RA. Wiratanudatar Cikundul, dalam catatan sejarah pernah ditulis bahwa beliau pernah bertapa selama 40 hari 40 malam  ( dalam ilmu tashawwuf / Ilmu Kewalian disebut Riyadhoh dan Mujahadah ). Tafakur mendekatkan diri pada Allah SWT di batu agung, tinaragung, Sagala herang. RA. Wiratanudatar didatangi dan digoda putri Jin yang sangat cantik putera dari raja jin Islam bernama Syech Jubaedi. 3 puteri jin itu bernama Arum Cahaya, Arum wangi, Arum Endah dan pengasuhnya bernama Arum Paka. Karena kekhusyuan RA. Wiratanu 1, putri paling bungsu, Arum Endah, tertarik dan jatuh cinta kepada RA. Wiratanu 1. Akhirnya sang putri Jin menikah dan melahirkan 3 orang putera bernama Rd. Suryakencana, Rd. Andaka Wirusajagat dan Rd Endang Sukaesih. Sementara itu dari manusia biasa Rd. Aria Wiratanu datar mempunyai 11 orang putera.

Setelah itu  ia mengembara ke daerah Cianjur menyusuri kali Citarum dengan membawa anak buahnya sebanyak 300 umpi. Setiap tempat disinggahinya sambil menyebarkan agama Islam dan ia pernah bertemu dengan Rd. H Abdulsyukur, Kiai Gunung Wayang.

Bupati Pertama
Setelah sampai di daerah Cianjur ia merintis untuk mendirikan kota Cianjur dan menjadi Dalem pertama Kadipaten Cianjur dengan wilayah kekuasaan sebagian wilayah Bogor dan Sukabumi. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer). Lokasi yang pertama kali dipilihnya adalah sekitar kp. Pamoyanan, tepat di tepi Sungai cianjur, disanalah Dalem Cikundul mendirikan Pemerintahan, dengan membangun pendopo sebagai tempat atau pusat Pemerintahan, yang hingga kini gedung tersebut masih kokoh berdiri.

masa pemerintahan Bupati Rd. Aria Wiratanu I ini antara tahun 1640- 1691 Masehi, setelah itu Pemerintahan di turunkan kepada Putra Pertama nya dari keturunan Manusia, (karena Dalem Cikundul Konon memiliki 2 Istri ,satu dari bangsa manusia dan satunya lagi dari Bangsa Jin,), yang bernama Rd. Aria Wiramanggala, Atau dalem Tarikolot, bergelar Aria Wiratanu II. dan memerintah dari tahun 1691 - 1707 Masehi.

Masa Senja

Setelah lanjut usia ia menetap di Kp. Majalaya dengan mendirikan Pesantren dan mengamalkan ilmu agamanya sampai wafatnya  yakni wafat pada hari jum`at 13 Robi`ul Awwal 1118 H / 25 juni 1706 M. 1706 Masehi dan dimakamkan di puncak Bukit Cijagang. Kampung Majalaya, Desa Cijagang, Kecamatan Cikalong-kulon. Cianjur, Jawa Barat , dan Beliau meninggalkan putra-puteri sebanyak 11 orang diantaranya :
•    1. Dalem Aria wiramanggala. ( Aria Wiratanu II )
•    2. Dalem Aria Martayuda (Dalem Sarampad).
•    3. Dalem Aria Tirta (Di Karawang).
•    4. Dalem Aria Natamanggala (Dalem aria kidul / Gunung jati cjr),
•    5. R.Aria Wiradimanggala(Dalem Aria Cikondang)
•    6. Dalem Aria Suradiwangsa (Dalem Panembong),
•    7. Nyi Mas R. Kaluntar .
•    8. Nyi Mas R. Bogem
•    9. Nyi Mas R. Karangan.
•    10. Nyi Mas R. Kara
•    11. Nyi Mas R. Djenggot
dan dari bangsa jin Islam, memiliki 2 orang putra - dan 1 putri, yaitu
•    1. Eyang Surya-kancana Mangku bumi . yang hingga sekarang dipercayai bersemayam di Gunung Gede atau hidup di alam jin.
•    2. Nyi Mas Indang Kancana alias Indang Sukaesih alias Nyai Mas Kara, bersemayam di Gunung Ceremai,
•    3. R. Andaka Warusajagad  di gunung kumbang Karawang

dan keradenan di alam jin mulai di hilangkan oleh Eyang Surya kancana Mangkubumi , sebab asal kata Raden adalah Ra = Ruh = Roh dan Den= Din = agama jadi Raden / Ruhdin adalah Rohnya Agama.
alasannya ditakutkan tidak bisa membawa pada akhlak yang baik dan tidak sanggup membawanya ke jalan yang benar, karena kalau akhlak tidak baik berarti menyalahi ruhnya agama sehingga berubah asal kata  Raden / Ruhdin menjadi Ra= Rada dan Den = Edan jadi Raden = Rada Edan......

maka dari itu semoga kita menjadi manusia yang mengedepankan Akhlak yang baik, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Asah, dan Silih mewangikan sampai sepanjang masa.